OPINI

Dunia Lain Mahasiswa


Oleh: Harmegi Amin

 Mahasisiwa, ketika orang mengucapkan kata itu, maka akan terlintas  dibenak kita sosok atau komunitas yang selalu mengedepankan              rasionalitas dan keintelektualannya. Mendengar nama itu akan memunculkan pemahaman bahwa merekalah kaum intelek, cerdas, serba bisa dan punya daya kritis tinggi dengan segudang ilmu yang dimilikinya sehingga kemudian layak untuk dikagumi.
              Ditambah lagi kata mahasiswa hampir tiap hari menggemah diberbagai media massa. Tabloid, Koran, radio, dan TV tak henti-hentinya menjadikan berbagai macam aktifitas mereka sebagai topik untuk dibahas. Dimasyarakat pun terkonstruk konsep berpikir dan imajinatif, yang memunculkan pemahaman bahwa merekalah yang selalu mengedepankan sikap intelek dalam setiap gerakannya, mempunyai daya kritis dan analitis tinggi dalam mengkaji berbagai masalah, serta secara proaktif senantiasa mengadakan perlawanan terhadap berbagai kebijakan yang tidak lagi memihak kepada wong cilik. Agent of change, Moral force, dan Social of control, itulah yang jadi identitas mereka.
Terlepas dari pemahaman awal kita, nampaknya perlu untuk dicermati kemudian apakah yang kita bayangkan sama seperti realitas yang terjadi pada kebayakan mahasiswa hari ini…?? Dan juga patut untuk kita pertanyakan, apakah identitas itu  tercitra pada diri kita…?? Kemudian masihkah kita amanah dari orang tua dan juga masyarakat sampai hari ini mampu kita emban dan kita dapat pertanggungjawabkan...?? Jawabannya kembali pada masing-masing diri kita…
Dunia kampus sebagai dunia mahasiswa adalah Dunia Multikultural dalam segala arti. Didalamnya terdapat berbagai macam paham pemikiran, aliran, suku, adat istiadat serta budaya yang membaur menjadi satu. Begitu kuatnya pengaruh yang ditimbulkan sehingga jika sekilas kita perhatikan aktivitas kampus hari ini, kita tak akan tahu lagi membedakan antara kampus sebagai basis intelektual dan dunia mejeng saat kita di Mall. Dalam kondisi demikian, berbagai macam pengaruh tersebut akan mempengaruhi/mendesain konsep berpikir kita dan secara otomatis akan menjadi pola piker yang kemudian akan tercermin lewat tingkah laku, perbutan atau tindakan yang dilakukan.
-->
        Dulu, saat pertama kali kita menapakkan kaki di dunia kampus berbagai harapan dan angan-angan yang muncul di benak kita. Ada yang menggantungkan harapannya menjadi mahasiswa teladan dengan IPK 4,00, ada yang ingin terkenal sebagai seorang aktivis, juga ingin cepat selesaikan studi untuk bisa membahagiakan orang tua di kampong dan masih banyak lagi. Tapi seiring perputaran waktu dalam menjalani aktivitas perkuliahan di kampus, juga dalam upaya pencarian jati dirinya untuk membangun konstruk idealism tanpa tahu pasti benar atau tidaknya, positif atau negatifnya apa yang banyak hal kita lihat, ambil, kemudian kita terima dan itulah yang ada pada diri kita sekarang. Karena begitu kuatnya pengaruh-pengaruh negatif yang meracuni pikiran kita, tak ayal lagi banyak kemudian mahasiswa yang menjadi lupa diri, lupa tujuan awalnya, juga identitasnya.Meminjam istilah Kanda Alamsyah (Mantan Pegurus BEM-FEIS UNM) bahwa “Dikampus yakinlah iblis selalu bersama kita.
Dan memang benar serta tak bisa dipungkiri bahwa di kampus adalah tempatnya orang-orang beradab dan orang-orang biadab. Tetapi parahnya, begitu banyak dari kita yang punya kecenderungan pada hal-hal yang negatif alias biadab dan akhinya menjadiikan berputar haluan. Jika tidak dilandasi dengan pemahaman nilai-nilai religius maka akan jadilah kita orang biadab yang selalu memainkan perasaan pada wilayah nafsu dan egoisme. Dan jadipulalah kita mahasiswa tidak waras, tak jelas arah dan tujuan.
Dikekinian begitu banyak diantara mereka yang terjebak dalam istilah mahasiswa “Banyak K”. Dari Kampung jauh ke Kota, ke Kamar, Kenyang, Ketiduran, lalu bangun Kesiangan. Layakkah kita menyandang gelar mahasiswa…?
Ataukah yang mereka yang taunya hanya Ngumpul-Ngumpul, banyak teori dan bicaranya tapi kerjanya sama sekali tidak ada kecuali Mubes, Raker dan Ngisap rokok. Itukah yang disebut kaum intelek…?
Yang lebih parah lagi dari mereka, ada yang waktunya dihabiskan bersama kawanya duduk rame-rame sambil main gitar atau main domino ditemani minuman beralkohol. Ada juga diantara mereka doyan Nge-Dugem dan akrab dengan THM, atau mereka yang waktunya hanya buat kencan. Dan tidak sedikit pula dari mereka bersama kekasih hidupnya dilalui bersama dikost-kost-an layaknya suami istri, makan minumnya sama-sama, siang malam hidupnya dilalui bersama di
-->
kost-kost-an layaknya suami istri, makan minumnya sama-sama, siang malam tidurnya sama-sama, dan tentunya “Maaf” tanpa rasa berdosa juga sudah bersama. Astagfirullah..Bukan ini memperihatinkan…? Dan lagi-lagi itukah para calon cendekia…??
              “Mahasiswa juga manusia dan memang tidak ada manusia sempurna” Mereka hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. Mungkin itulah kira-kira alas an sederhananya yang juga mungkin telah terbesit dibenak kita melihat realita  diatas. Dan jika memang demikian adanya, maka yang harus dipahami bahwa tanpa sadar kita sudah terjebak stetmen yang keliru kerena ini cenderung lebih mengedepankan egoisme dan nafsu kita. Dan memang harus diakui bahwa bahasa kebenaran terlontar itu, hanyalah sebagai apologi untuk melegitimasi apa yang kita perbuat dan semua yang telah kita lakukan.
Padahal begitu banyak hal yang bisa dilakukan kearah yang lebih baik. Namun demikian banyak diantara kita yang konstruk berpikirnya sangat apatis. Padahal wilayah agama ketika ada yang mengajak kajian atau pengajian, mendengar ceramah atau ikut taklim-taklim, atau apun labelnya, tidak sedikit yang menolak dengan alas an yang sederhana yakni belum siap menerima konsekuensi beragama, agama cukuplah didalam hati, dalam keadaan begini saya juga paham agama atau ada yang mengatakan kalau hal itu sudah ketinggalan zaman, ini tidak gaul, atau hal itu urusannya ustadz atau kyai. Dan banyak lagi dalih lainya.
Celakanya lagi ketika kembali kekomunitas masyarakat ketika ditanya masalah agama ia kemudian tiada komentar dan jawaban, dan parahnya ketika ditanya berkaitan disiplin ilmu yang telah digelutinya hal yang sama pun kembali terjadi. Apalagi yang kita lakukan untuk dijadikan pembenaran…??
Kawan…Perlu kita sadari bahwa setiap kisah/apa yang kita lihat lalu kita pahami pasti terekam dalam memori yang berbeda-beda. Tapi janganlah pikiran kita kemudian terlalu kerdil dalam memahami setiap nilai kebenaran dalam segala hal yang kita lakukan. Kita telah cukup dewasa dalam berpikir. Sekarang pilihan ada pada kita….,apakah kemudian kita mampu mencari atau dapat kembali mengenal serta memaknai kesejatian kita lalu mampu kita aplikasikan, ataukah kemudian masih tetap ingin menjadi pecundang sejati, yang dengan senang hati menuruti ajakan iblis…??